Dalam pandangan Islam, Riba bukan sekadar urusan bunga bank atau tambahan nilai uang. Ia adalah sebuah pelanggaran serius terhadap prinsip keadilan ekonomi. Secara bahasa, riba berarti ziyadah (tambahan), namun secara esensi, ia adalah beban yang menghisap keberkahan hidup.
Bahaya Riba: Lebih dari Sekadar Masalah Finansial
Banyak orang terjebak riba karena tergiur kemudahan instan, namun dampaknya seringkali melampaui angka-angka di saldo rekening. Berikut adalah beberapa bahaya nyata riba:
Deklarasi Perang dari Allah dan Rasul-Nya: Ini adalah dosa yang secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa pelakunya seolah sedang menantang perang terhadap Allah SWT (QS. Al-Baqarah: 278-279).
Hilangnya Keberkahan Harta: Harta ribawi mungkin terlihat banyak secara kuantitas, namun secara kualitas ia "panas" dan cepat habis untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Kekacauan Mental: Pelaku riba seringkali hidup dalam kecemasan konstan, dikejar tenggat waktu, dan ketakutan akan kegagalan bayar yang merusak ketenangan batin.
Efek Riba dalam Kehidupan Dunia
Riba menciptakan efek domino yang merusak tatanan sosial dan pribadi:
Kesenjangan Sosial: Riba membuat yang kaya semakin kaya tanpa usaha (hanya dengan memutar uang), sementara yang miskin semakin terperosok dalam hutang.
Inflasi Gaya Hidup: Banyak orang mengambil riba hanya untuk memenuhi standar hidup yang sebenarnya tidak mereka mampu, berujung pada perbudakan hutang seumur hidup.
Hancurnya Integritas: Demi menutupi bunga yang terus berbunga, seseorang seringkali terdorong untuk berbohong, melakukan penipuan, atau tindakan tidak jujur lainnya di tempat kerja.
Kisah Nyata: Ketika Riba Menghantam Kesehatan Keluarga
Seringkali kita bertanya-tanya, "Saya sudah kerja keras, gaji besar, tapi kenapa uang selalu habis dan keluarga sering sakit?"
Kisah Pak Anto (Nama Samaran):
Pak Anto adalah seorang karyawan sukses dengan cicilan mobil mewah dan rumah besar yang semuanya berbasis riba konstan. Secara fisik, ia terlihat mapan. Namun, di balik layar, keluarganya mengalami cobaan yang tak kunjung usai. Anak bungsunya sering masuk rumah sakit karena penyakit yang sulit didiagnosa secara medis, dan istrinya mengalami depresi karena tekanan finansial yang tersembunyi.
Setelah berkonsultasi dengan seorang guru agama, Pak Anto tersadar. Ia merasa uang yang ia bawa pulang "terkontaminasi" oleh riba. Ia pun memutuskan untuk menjual aset-asetnya yang berbunga, melunasi hutang, dan pindah ke rumah yang lebih sederhana.
Hasilnya? Secara ajaib, pengeluaran untuk biaya pengobatan drastis berkurang karena kesehatan anak-anaknya membaik. Ketenangan kembali ke rumah mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa harta yang sedikit namun berkah jauh lebih baik daripada harta melimpah yang tidak diridhoi.
Kesimpulan
Riba mungkin menawarkan solusi cepat, namun ia adalah racun bersalut madu. Menjauhi riba bukan hanya soal menaati aturan agama, tetapi tentang menjaga kewarasan, kesehatan keluarga, dan ketenangan jiwa.
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah." (QS. Al-Baqarah: 276)
Semoga Bermanfaat, Niat Amalkan dan Sebarkan.


.png)