Apa Itu Ishlah ?

APA ITU ISHLAH

Di zaman ketika setiap orang merasa mudah menilai, menghakimi, bahkan menjatuhkan saudaranya sendiri, kita semakin membutuhkan pemahaman yang benar tentang makna islah (الإصلاح). Sebab tidak semua yang mengatasnamakan perbaikan benar-benar membawa perbaikan. Tidak semua yang mengaku ingin meluruskan, benar-benar menginginkan kelurusan.

Allah ta'ala berfirman

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ

"Aku tidak bermaksud kecuali mengadakan perbaikan selama aku masih sanggup." (QS. Hūd: 88)

Kalimat ini diucapkan oleh Nabiullah Syu'aib alaihis salam. Ia mengajarkan bahwa tujuan seorang muslim ketika menasihati, mengkritik, atau mengoreksi adalah perbaikan, bukan pelampiasan emosi, bukan memperturutkan kebencian, bukan pula memuaskan ego pribadi.

Allah ta'ala berfirman

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

"Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas ilmu yang jelas." (QS. Yusuf: 108)

Tanpa ilmu, seseorang mudah tergesa-gesa dalam menilai. Ia mendengar sedikit lalu menyimpulkan banyak. Ia membaca potongan informasi lalu merasa telah memahami keseluruhan persoalan.

Karenanya, betapa banyak kerusakan yang lahir bukan karena niat buruk semata, tetapi karena kebodohan yang dibungkus semangat.

Kadang seseorang mengaku sedang membela agama, padahal yang menggerakkannya adalah iri hati, persaingan, atau kebencian pribadi.

Allah berfirman

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِه

"Apakah mereka dengki kepada manusia atas karunia yang Allah berikan kepada mereka?" (QS. An-Nisā': 54)

Hasad membuat mata sulit melihat kebaikan. Hasad membuat seseorang membesar-besarkan kesalahan dan mengecilkan kebaikan. Hasad membuat hati merasa senang ketika saudaranya jatuh.

Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

"Janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Al-Bukhari & Muslim). 

Orang yang benar-benar menginginkan islah akan merasa sedih ketika melihat saudaranya keliru, bukan merasa senang karena mendapatkan bahan untuk menyerang untuk menjatuhkannya.

Salah satu penyakit yang merusak proses perbaikan adalah ketergesa-gesaan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

"Sikap tenang dan hati-hati berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa berasal dari setan." (HR. Al-Baihaqi)

Banyak konflik umat membesar bukan karena masalah pokoknya besar, tetapi karena cara menyikapinya yang ceroboh dan terburu-buru.

Seseorang memvonis sebelum tabayyun, menyalahkan sebelum memahami, memutus hubungan sebelum menasihati, dan mengumumkan kesalahan sebelum memastikan kebenarannya.

Ketika menghadapi kaum muslimin yang masih memiliki banyak kekurangan, Allah tidak memerintahkan NabiNya dengan kekerasan.

Sebaliknya Allah berfirman

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

"Maafkanlah mereka, mohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka." (QS. Āli 'Imrān: 159)

Perhatikan urutannya, memaafkan, mendoakan, merangkul, mengajak dan bermusyawarah. Bukan memusuhi. Bukan memboikot. Bukan mengeluarkan. Bukan menghancurkan kehormatan saudaranya.

Maka ketika menghadapi saudara sendiri, pendekatan kasih sayang jauh lebih banyak membuka pintu hati daripada pendekatan permusuhan.

Tentu ada saatnya ketegasan diperlukan. Namun ketegasan tanpa hikmah akan berubah menjadi kekerasan. Ketegasan tanpa ilmu akan berubah menjadi kedzaliman.

Allah berfirman

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

"Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik." (QS. An-Nahl: 125)

Jika setiap kesalahan dibalas dengan pemboikotan, setiap perbedaan dibalas dengan permusuhan, setiap kekeliruan dibalas dengan pengusiran, lalu apa yang tersisa dari ukhuwah.  Apa sudah merasa bangga dengan jumlah orang yang berhasil kita keluarkan. Ataukah bangga dengan daftar panjang orang yang berhasil kita musuhi. 

Keberhasilan dakwah bukanlah banyaknya orang yang dijauhkan, tetapi banyaknya orang yang didekatkan kepada Allah. Keberhasilan islah bukanlah menghancurkan manusia, tetapi memperbaiki manusia.

Oleh karena itu, hendaknya kita belajar memperbaiki dengan hati yang bersih, ilmu yang benar, dan niat yang tulus. Jangan biarkan hasad menyamar sebagai ghirah. Jangan biarkan kemarahan menyamar sebagai amar ma'ruf. Jangan biarkan kedzaliman menyamar sebagai pembelaan terhadap agama.

نسأل الله أن يجعلنا من أهل الإصلاح، وأن يرزقنا العلم النافع والحكمة والرحمة والعدل.

"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang melakukan perbaikan, anugerahkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hikmah, kasih sayang, dan keadilan."

0 comments:

Post a Comment

10 Artikel Terpopuler di BLOG Nandar